KABUPATEN GUNUNGKIDUL, LINGKAR.NEWS – Memasuki usia satu dekade, Hari Bhakti Pendamping Desa menjadi momentum penting untuk merefleksikan arti pengabdian sekaligus meneguhkan komitmen dalam mengawal kemandirian masyarakat desa. Tenaga Pendamping Profesional (TAPM) Kabupaten Gunungkidul, Aris Nurkholis, menyatakan bahwa perjalanan sepuluh tahun bukan sekadar perayaan waktu, melainkan ruang untuk mengukur dampak nyata pendampingan terhadap kesejahteraan warga.
“Sepuluh tahun adalah jejak pengabdian. Dekade berikutnya adalah ujian untuk membuktikan bahwa pendampingan benar-benar menghadirkan perubahan,” ujar Aris Nurkholis dalam keterangan persnya yang diterima di Wonosari, Jumat (9/10).
Sejak pertama kali digulirkan, peran pendamping desa telah bersentuhan langsung dengan berbagai dinamika masyarakat, mulai dari memfasilitasi musyawarah perencanaan pembangunan, mengawal tata kelola Dana Desa, hingga mendorong partisipasi aktif warga. Tantangan yang dihadapi di lapangan pun beragam, mulai dari tuntutan administratif, keterbatasan teknis, hingga dinamika sosial yang kompleks. Kendati demikian, fokus utama pendampingan tetap diarahkan pada transformasi substantif, yakni menjadikan masyarakat sebagai subjek pembangunan yang mandiri dan berdaya saing.
Menatap dekade berikutnya, tantangan pembangunan desa dipastikan semakin kompleks, mencakup aspek ekonomi digital, ketahanan pangan, hingga isu lingkungan. Oleh karena itu, Aris menekankan agar orientasi pendampingan ke depan tidak lagi menciptakan ketergantungan, melainkan membangun kapasitas lokal. Ukuran keberhasilan seorang pendamping desa dinilai dari sejauh mana pemerintah desa dan warganya mampu mengidentifikasi masalah, mengelola sumber daya, serta menentukan arah masa depannya sendiri demi mewujudkan Indonesia yang lebih kuat dari desa.
Penulis : Aris Nurkholis / Tenaga Pendamping Profesional (TAPM) – Lokasi : (Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta)