Yogyakarta, Lingkar.news – Balai Besar Pelatihan Pemberdayaan Masyarakat (BBPPMT) Yogyakarta sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Transmigrasi melakukan pengembangan komoditas lokal, khususnya sektor perikanan air tawar di Pemukiman Transmigrasi Domande, Distrik Malind, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, Jumat, (02/10/2026).
Koordinator Tim Kerja Pendampingan, Azsep Kurniawan di Jayapura, Jumat, mengatakan pada musim kemarau saat ini masyarakat Domande banyak memanfaatkan waktunya untuk menangkap ikan di rawa.
“Hasil tangkapan mereka pun cukup melimpah, namun belum ada nilai tambah, akibatnya harga anjlok. Padahal, ikan gastor ini mudah dijumpai di rawa dan sungai Domande,” katanya.
Pihaknya menyelenggarakan pendampingan pengolahan ikan gastor bagi masyarakat Orang Asli Papua (OAP) di Pemukiman Transmigrasi Domande pada 29 September hingga 1 Oktober 2026, yang bertujuan agar produk ikan gastor ini mempunyai nilai tambah, sehingga meningkatkan taraf hidup warga di daerah ini.
“Kami mencoba ikan gastor diolah menjadi produk abon dan bakso. Kebetulan nilai pasar dari produk abon ikan gastor masih terbuka di wilayah perkotaan dan juga masih disukai anak-anak di pemukiman,” ujarnya.
Dia menjelaskan harga abon ikan saat ini masih tinggi berkisar Rp35 ribu per 100 gram sementara harga ikan gastor mentahnya Rp5 ribu hingga Rp10 ribu per kilogram.
“Sehingga, ke depan pengembangan ekonomi berbasis komoditas lokal harus terus dilakukan. Tidak hanya ikan gastor, ada hasil tangkapan laut melimpah yang terkendala tidak adanya cold storage dan transportasi untuk pemasarannya di kota. Ada juga kelapa yang melimpah yang tidak hanya dijadikan kopra,” katanya.
Dia berharap agar infrastruktur jalan menuju Domande yang sebagian rusak dapat segera diperbaiki agar akses pemasaran lebih mudah.
“Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) dan infrastruktur harus beriringan dan berkelanjutan serta kerja sama lintas sektor menjadi keniscayaan,” ujarnya.
Pewarta: Rara
Editor: Saiful Muhlis
