Pelaku UMKM Bantul mulai rasakan manfaat JJLS dan Kelok 23 750x536 1

Berkat JJLS dan Kelok 23, UMKM Getuk Goreng Bantul Panen Cuan!

Yogyakarta, Lingkar.newsPelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), khususnya yang berada di kawasan Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) dan Kelok 23, mulai merasakan angin segar dari pembangunan infrastruktur tersebut.

Hesti Irawati (42), salah satu pelopor produsen gethuk goreng khas Bantul yang merintis usahanya sejak 2022, mengaku bersyukur atas kehadiran infrastruktur baru ini di kawasan pantai selatan Bantul.

“Sebelum ini, saya memang sudah berjualan di JJLS, tetapi bukan produk gethuk goreng,” kata Hesti pada Rabu (23/9/2026).

Warga Padukuhan Ngentak, Kalurahan Pandansimo, Kapanewon Srandakan, itu awalnya hanya ingin menghadirkan oleh-oleh khas yang mudah ditemukan wisatawan di kawasan pantai selatan Bantul melalui produk olahan singkong.

“Saya coba buat resep gethuk goreng, setelah lima kali percobaan gagal, akhirnya berhasil mendapatkan cita rasa seperti yang diinginkan,” ujar Hesti.

Berkat ketekunannya, kini puluhan penjual oleh-oleh gethuk goreng berderet rapi di sepanjang JJLS, mulai dari kawasan Pantai Pandansari, Pantai Goa Cemara, Pantai Cangkring, hingga Pantai Baru.

“Adanya JJLS ini cukup menjadi daya tarik wisatawan, apalagi ada Kelok 23 kemarin saat uji coba pembukaan ramai sekali,” ungkap Hesti.

Seiring pesatnya perkembangan sektor pariwisata di pantai barat Bantul berkat JJLS, Jembatan Kabanaran, dan Kelok 23, permintaan terhadap produk gethuk goreng miliknya melonjak tajam.

“Pendapatan dapat meningkat lebih dari 20 persen,” ucap Hesti.

Dalam proses produksi harian, ia mampu mengolah bahan baku singkong sebanyak 700 kilogram untuk memenuhi tingginya permintaan pasar wisatawan.

Selain mendulang keuntungan pribadi, Hesti menilai keberadaan usahanya turut menggerakkan roda perekonomian warga lokal serta membuka lapangan kerja baru.

“Bahan bakunya sebagian kita beli dari petani di Bantul, kemudian semua pekerja juga merupakan warga Dusun Ngentak,” jelas Hesti.

Saat ini, ia mempekerjakan sebanyak 17 orang dengan tugas masing-masing, mulai dari mengupas dan memotong singkong, memasak, mengolah adonan, menggoreng, hingga mengemas gethuk ke dalam besek.

“Setiap minggu biasanya memproduksi gethuk goreng dua kali, menyesuaikan jumlah penjualan dan stok gethuk goreng dalam lemari pendingin,” terang Hesti.

Melihat tren positif ini, ia optimis bahwa masifnya pembangunan infrastruktur di sisi selatan DIY adalah peluang emas bagi para pelaku usaha lokal.

“Pusat wisata bisa saja jadi di selatan Jogja. Makanya ini sangat potensial,” tutur Hesti.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bantul, Agus Budi Raharja, menambahkan bahwa proyek strategis JJLS dan Kelok 23 memang dirancang khusus untuk mendongkrak sektor pariwisata di kawasan selatan DIY.

“Akses untuk pindah destinasi wisata lebih cepat dan bagus, kemudian pemandangan sepanjang JJLS terlebih di Kelok 23 itu kan bagus banget,” papar Agus.

Menutup keterangannya, Agus mengajak seluruh pelaku UMKM agar sigap memanfaatkan momentum emas ini untuk mendongkrak perekonomian masyarakat secara luas, tentunya dengan tetap mematuhi regulasi dan aturan perdagangan yang berlaku.

Pewarta: Rara
Editor: Saiful Muhlis