BANTUL, LINGKAR.NEWS – Jajanan tradisional legomoro asal Desa Jagalan, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, Provinsi DI Yogyakarta, tidak hanya dikenal sebagai kuliner warisan leluhur yang lezat, tetapi juga menyimpan filosofi mendalam tentang ketulusan dan harapan baik dalam menyambut kedatangan seseorang yang kini terus dilestarikan oleh masyarakat setempat hingga Sabtu, 11 Oktober 2026.
Legomoro yang merupakan kuliner khas kawasan Kotagede dan sekitarnya terbuat dari beras ketan yang dimasak bersama santan, diberi isian daging ayam berbumbu atau abon, lalu dibungkus menggunakan daun pisang dan diikat dengan tali bambu. Nama legomoro sendiri berasal dari penggabungan kata dalam bahasa Jawa, yaitu “lego” yang berarti lega atau ikhlas, dan “moro” yang berarti datang, sehingga menyimbolkan keramahan, penerimaan, serta harapan akan hubungan kekeluargaan yang harmonis dalam tradisi hajatan maupun hantaran pernikahan.
Selain cita rasanya yang khas dan mengenyangkan, keunikan legomoro juga terletak pada teknik pembungkusan serta ikatan tali bambunya yang menjadi ciri khas penyajian tradisional. Terkait hal tersebut, Tenaga Pendamping Desa (PD) Kecamatan Banguntapan, Ismi Barzanah, menjelaskan bahwa bentuk fisik dan detail ikatan pada kudapan ini memiliki makna simbolis yang kuat dalam kebudayaan setempat.
“Dalam tradisi tertentu di Jagalan, susunan ikatan dan jumlah lidi pada hantaran legomoro juga dikaitkan dengan doa bagi pasangan yang akan membangun rumah tangga. Penafsiran simboliknya perlu dipahami dalam konteks tradisi lokal yang diwariskan masyarakat,” ungkap Ismi Barzanah.
Di tengah arus modernisasi dan perubahan gaya hidup masyarakat saat ini, keberadaan legomoro memegang peranan penting sebagai warisan pengetahuan kuliner lokal yang harus dijaga kelestariannya. Upaya pelestarian tersebut dinilai tidak cukup hanya dengan mempertahankan resep aslinya saja, melainkan juga melalui pendokumentasian teknik pembuatan, kisah para perajin, serta pemahaman mendalam mengenai makna budaya yang menyertainya agar nilai-nilai luhur tradisi Jagalan tetap hidup dari generasi ke generasi.
Penulis : Yuni Lestari / Tenaga Ahli Kabupaten Bantul – Lokasi : (Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta)
