BPBD DIY ajukan pembuatan sumur bor di wilayah kekeringan ke BNPB 750x536 1

Krisis Air Bersih, BPBD DIY Minta BNPB Buat Sumur Bor di Bantul dan Gunung Kidul

Yogyakarta, Lingkar.news – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengajukan permohonan bantuan kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk pembuatan sumur bor di wilayah terdampak kekeringan selama musim kemarau 2026.

Kepala Pelaksana BPBD DIY, Agustinus Ruruh Haryata, menyatakan bahwa langkah ini diambil sebagai upaya mitigasi krisis air di wilayah-wilayah yang memiliki potensi sumber air bawah tanah memadai.

“Kita juga bersurat ke BNPB untuk kemudian meminta bantuan untuk pembuatan sumur-sumur bor di wilayah yang titik-titiknya memang memungkinkan,” kata Agustinus Ruruh Haryata, Senin (24/8/2026).

Dalam menentukan lokasi pengeboran, BPBD DIY melibatkan ahli untuk memastikan ketersediaan air tanah di titik-titik yang direncanakan.

“Kita sudah bekerja sama dengan BPPTKG, Badan Geologi yang kemudian dengan geolistriknya ini memang sesuai untuk kita ambil air tanah dalamnya dengan sumur bor, nah, kita dapatkan di beberapa titik,” ujarnya.

Terdapat empat titik yang telah diusulkan untuk pembangunan sumur bor, yang tersebar di wilayah Kabupaten Gunung Kidul dan Kabupaten Bantul.

“Baik di Bantul maupun Gunung Kidul, kita sudah dapatkan titiknya dan kita usulkan ke BNPB. Kita mengusulkan, kalau tidak salah empat titik, satu di Bantul dan tiga di Gunung Kidul,” jelasnya.

Agustinus menambahkan bahwa wilayah Gunung Kidul menjadi perhatian khusus pemerintah karena memiliki tingkat kerawanan kekeringan yang lebih tinggi, terutama di kecamatan-kecamatan seperti Rongkop, Gedangsari, Panggang, dan Tepus.

“Itu kecamatan-kecamatan yang memang potensi kekeringannya cukup tinggi, akan tetapi Gunung Kidul itu juga banyak yang terbantu dengan menaikkan air yang sumber dari sungai bawah tanah,” ungkapnya.

Sebagai kesimpulan, BPBD DIY berharap pembangunan sumur bor ini menjadi solusi jangka panjang yang berkelanjutan bagi masyarakat, menggantikan pola penanganan bantuan air bersih atau dropping air yang bersifat sementara.

“Jadi harapannya nanti tidak hanya menyelesaikan yang temporal, tetapi harapannya ke depan juga yang bisa berkelanjutan,” pungkasnya.

Pewarta: Rara
Editor: Saiful Muhlis