Kemenkeu salurkan bantuan Becak Kayuh Listrik Wisata di Yogyakarta 750x536 1

Modernisasi Transportasi Wisata, Becak Kayuh di Jogja Ditenagai Listrik

Yogyakarta, Lingkar.news – Kementerian Keuangan melalui Pusat Investasi Pemerintah (PIP) menyalurkan bantuan ekosistem Becak Kayuh Listrik Wisata (Bekalista) guna mendukung kenyamanan dan modernisasi transportasi wisata khas Yogyakarta. Penyerahan bantuan ini berlangsung di Alun-Alun Kidul Yogyakarta pada Kamis (16/7/2026).

Direktur Jenderal Perbendaharaan Kemenkeu, Astera Primanto Bhakti menyampaikan bahwa pengembangan Bekalista bertujuan untuk meningkatkan keamanan serta kenyamanan transportasi wisata tanpa harus menghilangkan identitas budaya asli Yogyakarta.

Ia menjelaskan bahwa operasional becak dan andong telah memiliki landasan hukum yang kuat melalui Peraturan Daerah DIY Nomor 5 Tahun 2016 serta Peraturan Gubernur (Pergub) DIY Nomor 39 Tahun 2024, yang secara khusus membuka ruang inovasi bagi becak kayuh berbantuan motor listrik.

Menurutnya, inovasi ini dirancang agar ramah bagi seluruh kalangan penumpang, termasuk memudahkan akses bagi kaum perempuan atau lanjut usia.

Pembangunan ekosistem Bekalista diklaim melibatkan 100 persen tenaga lokal Yogyakarta, yang mencakup profesional di bidang teknik fabrikasi, perakitan, kelistrikan, hingga pelibatan sekolah kejuruan guna memperkuat teaching factory.

Pada kesempatan tersebut, dilakukan penyerahan simbolis unit Bekalista kepada 15 perwakilan dari total 80 pengayuh becak di Kota Yogyakarta dan sekitarnya.

Untuk memastikan keberlanjutan operasional, sistem ini telah dilengkapi dengan satu unit bengkel bergerak (mobile workshop), 12 stasiun pengisian daya, delapan unit baterai cadangan, serta sebuah bengkel induk yang berlokasi di SMK Negeri 3 Yogyakarta.

Program Bekalista diharapkan mampu meningkatkan produktivitas serta pendapatan para pengayuh, meringankan beban fisik bagi pengayuh lanjut usia, sekaligus mendukung ekoturisme melalui moda transportasi rendah emisi dan minim polusi suara.

Kehadiran Bekalista diyakini dapat memperkaya pengalaman wisatawan serta mendorong peningkatan belanja pada produk maupun jasa lokal di Yogyakarta.

Sebagai kesimpulan, keberlangsungan program transportasi wisata ini harus dijaga melalui penerapan tiga pilar utama yakni penguatan tata kelola komunitas, kemandirian pemeliharaan aset, dan integrasi teknologi digital.

Tiga pilar itu pertama adalah penguatan tata kelola komunitas melalui koperasi mobilitas nasional Indonesia, yang kedua adalah kemandirian pemeliharaan aset melalui peningkatan kapasitas mekanik lokal dan fasilitasi bengkel bergerak.

Dan yang ketiga adalah integrasi teknologi informasi, yaitu melalui transaksi digital dan memanfaatkan platform Jogjakita untuk memperluas pemasaran serta akses layanan.

Pewarta: Rara
Editor: Saiful Muhlis