SLEMAN, LINGKAR.NEWS — Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) Kabupaten Sleman menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Kapasitas Pendamping Desa (PD) dan Pendamping Lokal Desa (PLD) melalui pemanfaatan modul e-Learning Pencegahan dan Penurunan Stunting (P3S) secara virtual dari Desa Margo Rejo, Kecamatan Tempel, Kabupaten Sleman, Provinsi DI Yogyakarta, pada Kamis, 8 Oktober 2026. Kegiatan strategis yang berfokus pada *electronic Human Development Worker* (eHDW) Learning ini digelar guna memperkuat garis terdepan penanganan stunting di wilayah pedesaan yang kini juga dihadapkan pada tantangan perubahan iklim.
Pelaksanaan peningkatan kapasitas ini merujuk pada Surat Edaran Direktur Jenderal Pembangunan Desa dan Perdesaan (Dirjen PDP) Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa PDT) Nomor: 578/PDP.01.03/X/2026 tertanggal 1 Oktober 2026. Regulasi tersebut menekankan pentingnya penguatan peran Tenaga Pendamping Profesional (TPP) dalam melakukan pendampingan pembangunan desa, khususnya pada isu konvergensi penanganan stunting berbasis data terpadu dan aplikasi digital.
Dalam bimbingan teknis tersebut, Analis Kebijakan Ahli Madya Kemendesa PDT, Rini Nuraini, S.H., M.Si., menegaskan pentingnya optimalisasi platform digital untuk memantau indikator layanan di lapangan. Ia menyatakan bahwa pemanfaatan modul digital ini dirancang untuk mempermudah pemantauan indikator layanan konvergensi stunting di desa secara *real-time*.
“eHDW tidak sekadar menjadi alat pelaporan kuantitatif, melainkan sarana evaluasi kritis bagi desa untuk memastikan seluruh rumah tangga sasaran—seperti ibu hamil dan anak usia bawah dua tahun—mendapatkan paket layanan esensial secara utuh,” ujar Rini Nuraini saat memaparkan materi.
Sementara itu, Penggerak Swadaya Masyarakat Ahli Pertama dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (DPMK) Kabupaten Sleman, Rizky Yulia Anggraini, S.Psi., menyoroti pentingnya sinergi antara kader masyarakat seperti Kader Pembangunan Manusia (KPM) dengan PD dan PLD. Menurutnya, kolaborasi tersebut krusial agar pelaksanaan intervensi stunting di tingkat desa berjalan tepat sasaran dan terkoordinasi secara terpadu.
Adapun TAPM Kabupaten Sleman, Sigit Praptono, dalam pemaparannya mengaitkan tantangan penurunan stunting dengan fenomena perubahan iklim yang berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap kesehatan masyarakat, seperti krisis ketahanan pangan dan penurunan kualitas lingkungan. Guna menanggulangi risiko tersebut, TPP di tingkat desa dituntut mampu mendorong perencanaan desa yang adaptif iklim melalui koordinasi multisektor yang ketat bersama dinas kesehatan, BKKBN, Dinas PUPR, Dinas Pertanian, hingga BPBD. Melalui Bimtek e-Learning P3S ini, para pendamping di Kabupaten Sleman diharapkan mampu menjalankan peran strategisnya mewujudkan desa yang tangguh iklim, sehat, dan bebas stunting.
Penulis : Puji Supriyanto / Pendamping Lokal Desa – Lokasi : (Desa Margo Rejo, Kecamatan Tempel, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta)
