YOGYAKARTA, Lingkar.news – Komunitas sepeda tua Pagoejoeban Onthel Djogjakarta menggelar kegiatan “Kartini Bersepeda Lagi” melalui kirab sepeda ontel dari kawasan Tugu Yogyakarta menuju Titik Nol Kilometer untuk memperingati Hari Kartini pada Senin (20/4/2026).
Kegiatan ini melibatkan Perempuan Berkebaya Indonesia Yogyakarta serta didukung oleh Gita Cinta Orkestra dari Yogyakarta.
Ketua Pagoejoeban Onthel Djogjakarta Towil mengatakan kegiatan tersebut menjadi upaya menghidupkan kembali semangat bersepeda di tengah perkembangan zaman yang serba cepat dan digital.
“Di masa kini, perempuan berkebaya bersepeda bukan hal yang asing. Justru ini menjadi ajakan untuk tetap bersepeda sebagai gaya hidup ramah lingkungan, hemat energi, dan bagian dari upaya menjaga bumi,” kata Towil.
Ia menjelaskan, ide kegiatan ini berangkat dari kegelisahan terhadap perubahan gaya hidup masyarakat yang dinilai semakin jauh dari nilai-nilai lokal dan kebersamaan.
Menurutnya, Yogyakarta sebagai kota budaya memiliki ruang yang kuat untuk menyampaikan pesan-pesan positif, termasuk melalui aktivitas sederhana seperti bersepeda dengan nuansa tradisional.
“Melalui momentum Kartini ini, kami ingin menyampaikan bahwa kita tetap bisa bergerak, berkarya, dan menjaga semangat kebangsaan dengan cara yang sederhana namun bermakna,” ujarnya.
Kirab sepeda dimulai dari sumbu filosofi, yakni kawasan Tugu Yogyakarta, melintasi Jalan Malioboro, dan berakhir di Titik Nol Kilometer.
Towil menambahkan, kegiatan serupa telah rutin dilakukan dalam berbagai peringatan hari nasional sebagai bentuk edukasi kepada generasi muda agar tetap mengenal sejarah, budaya, dan kearifan lokal.
Sementara itu, Ketua Komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia Yogyakarta Margareta Tinuk Suhartini (56), menyampaikan bahwa peringatan Hari Kartini selalu menjadi momen penting bagi perempuan untuk merefleksikan perjuangan Raden Ajeng Kartini.
“Merayakan Kartini dengan cara seperti ini sangat menyenangkan dan unik. Ini juga menjadi bentuk kebebasan perempuan untuk berekspresi sekaligus melestarikan budaya,” kata Margareta.
Ia menambahkan, di era digital saat ini perempuan dituntut untuk terus beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar.
Menurutnya, literasi menjadi kunci penting agar perempuan mampu menyaring informasi yang beredar sekaligus berperan dalam mendampingi keluarga di tengah derasnya arus informasi.
“Tidak berhenti belajar itu kuncinya, supaya tidak tertinggal jauh dengan generasi sekarang,” ujarnya.
Margareta juga mengapresiasi semakin banyaknya generasi muda yang mulai mengenakan kebaya dalam berbagai kesempatan. Hal itu, menurutnya, menunjukkan bahwa budaya lokal masih memiliki tempat di tengah modernisasi.
Jurnalis: Ant
Editor: Basuki