wisatawan malioboro

Program Bule Mengajar, Strategi Pemkot Yogyakarta Kembangkan Wisata Budaya

YOGYAKARTA, Lingkar.news Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta merancang konsep wisata budaya partisipatif melalui program bule mengajar, yang melibatkan wisatawan mancanegara secara langsung dalam aktivitas sosial dan kebudayaan masyarakat lokal.

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengatakan program ini tidak hanya menjadi atraksi wisata, tetapi juga sarana edukasi dan pertukaran budaya yang berdampak langsung bagi warga.

“Sebagai bentuk apresiasi, wisatawan yang mengikuti program ini akan kami beri sertifikat penghargaan dari Wali Kota atas partisipasi mereka dalam kegiatan sosial dan kebudayaan,” ujar Hasto, Rabu (21/1/2026).

Wisatawan Terlibat Langsung dengan Masyarakat

Program bule mengajar dirancang agar wisatawan tidak sekadar menjadi penonton budaya, melainkan berpartisipasi aktif dalam kegiatan belajar dan berbagi pengetahuan bersama masyarakat.

Aktivitas tersebut meliputi pengenalan budaya lokal, pembelajaran nilai kedisiplinan, hingga interaksi sosial dengan warga dan anak-anak di lingkungan setempat. Dengan skema ini, wisata budaya di Kota Gudeg diharapkan lebih bermakna dan berkelanjutan.

Menurut Hasto, pengembangan kebudayaan harus mampu melahirkan karya, kreativitas, dan inovasi yang memberi dampak nyata bagi masyarakat.

“Kalau karya, kreativitas, dan inovasi terus lahir, itu sudah menjadi modal besar. Tinggal bagaimana kita menyusunnya menjadi rencana yang memberi daya ungkit bagi ekonomi dan kemajuan wilayah,” katanya.

Program bule mengajar direncanakan digelar pada waktu-waktu khusus, seperti Sabtu pagi, saat aktivitas pariwisata relatif tidak padat.

Dengan pengaturan tersebut, Pemkot Yogyakarta berharap kegiatan sosial dan kebudayaan dapat berjalan selaras dengan aktivitas wisata, tanpa saling mengganggu maupun mengurangi kenyamanan pengunjung.

Indeks Kebudayaan Tertinggi Nasional

Sementara itu, perwakilan Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta, Setyo Harwanto, menyebutkan bahwa Yogyakarta saat ini memiliki Indeks Pembangunan Kebudayaan sebesar 73,79, tertinggi secara nasional.

Selain itu, terdapat lebih dari 400 komunitas dan pelaku seni budaya yang telah memiliki kesadaran hukum dan kelembagaan.

Tantangan Gentrifikasi Pariwisata

Meski demikian, ia menilai Yogyakarta masih menghadapi tantangan serius berupa gentrifikasi pariwisata, yakni kondisi ketika pertumbuhan usaha dan atraksi budaya belum sepenuhnya memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal.

“Perputaran uang sering kali tidak tinggal di Yogyakarta. Ini menjadi tantangan bagaimana kebudayaan bisa naik kelas, dari program yang berorientasi kegiatan menjadi program yang berorientasi pasar, tanpa kehilangan nilai budaya,” ujarnya.

Jurnalis: Ant
Editor: Basuki