Bantul dukung wisata edukasi pembuatan gula di Pabrik Madukismo 750x536 1

Sudah Ada sejak 1955, Pabrik Gula Madukismo Jadi Destinasi Heritage Unggulan di Bantul

Bantul, Lingkar.news – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, resmi memberikan dukungan penuh terhadap aktivitas wisata edukasi di Pabrik Gula Madukismo. Langkah ini diambil sebagai upaya strategis dalam mengedukasi masyarakat mengenai proses produksi gula sekaligus memperkenalkan nilai sejarah pabrik tersebut bagi sektor pariwisata daerah.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Bantul, Singgih Riyadi, pada Selasa (8/9/2026) menyatakan bahwa pihaknya berkomitmen untuk membantu memperkuat citra destinasi tersebut.

“Nanti kami akan mendukungnya dalam bentuk penguatan publikasi dan promosinya di media”, ujar Singgih.

Singgih menekankan bahwa pabrik tersebut memiliki nilai sejarah yang tinggi, di mana mesin-mesin yang digunakan mayoritas merupakan buatan Jerman yang telah beroperasi sejak sekitar tahun 1955.

Sekarang masih berfungsi dengan baik, ujar dia.

Terkait sinergi antarinstansi, Singgih menyebutkan bahwa peluang kolaborasi sangat terbuka, termasuk dengan Dinas Pariwisata untuk pengembangan wisata olahraga (sport tourism) dan wisata berbasis warisan budaya (heritage).

Pabrik Gula Madukismo ini menjadi pelengkap destinasi wisata di Bantul, tinggal nanti tugas Dispar untuk mengemas dalam paket wisata, katanya.

Sementara itu, Koordinator Pengembangan Aset PT Madubaru PG-PS Madukismo, Mahmud Safrudi, mengungkapkan bahwa sejak dibuka untuk umum pada 1997, pabrik ini telah berkembang menjadi agrowisata andalan di Kabupaten Bantul.

Untuk memperlihatkan pengunjung bagaimana proses pengolahan tebu menjadi kristal gula, ujar dia.

Mahmud menjelaskan bahwa pengunjung akan diajak menyusuri kawasan pabrik menggunakan lori atau kereta tebu, sembari melihat operasional mesin produksi serta proses pembuatan alkohol medis dan farmasi.

Ada dua pabrik pengolahan yakni pabrik gula dan pabrik pembuatan alkohol medis dan farmasi, katanya.

Terkait operasional kunjungan, Mahmud menekankan pentingnya reservasi untuk menjaga ketertiban jadwal. Pengunjung dibatasi maksimal empat rombongan per hari dengan durasi kunjungan selama dua jam.

Kami maksimal empat kunjungan per hari, mulai jam 07.00 WIB sampai jam 14.00 WIB, karena nanti kloter terakhir berakhirnya jam 16.00 WIB, durasi tiap kunjungan dua jam, ujar dia.

Mahmud memaparkan bahwa pabrik ini didirikan pada 1955 atas prakarsa Sri Sultan Hamengkubuwono IX untuk menggantikan 17 pabrik gula di Yogyakarta yang hancur, sekaligus menjadi wadah bagi eks-pekerja pabrik tersebut.

Tujuan utamanya yaitu untuk merekrut tenaga kerja yang dulunya bekerja di 17 pabrik gula tersebut, katanya.

Ia menambahkan, kapasitas pabrik terus berkembang dari awalnya 1.500 Ton Cane per Day (TCD) menjadi 3.500 TCD dengan target produksi gula mencapai 250 ton per hari.

Kami mempunyai target ya kurang lebih 250 ton produksi gula per hari, ujar dia.

Pihak pengelola menegaskan bahwa setiap hari terdapat kunjungan wisata edukasi, mulai dari kalangan sekolah, mahasiswa magang, hingga peneliti yang ingin mendalami sejarah dan proses kristalisasi gula.

Pewarta: Rara
Editor: Saiful Muhlis