pembalap indonesia veda pratama kru pada balapan moto3 gp brasil 2026

Yogyakarta Lahirkan Pembalap Level Dunia, tapi Sirkuit Permanen Belum Ada

YOGYAKARTA, Lingkar.news Mantan pembalap Moto2 Indonesia, Doni Tata Pradita, menilai Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) membutuhkan sirkuit permanen untuk mendukung pembinaan pembalap muda yang terus menunjukkan prestasi di level internasional.

Menurut Doni, daerah asalnya itu memiliki potensi besar dalam melahirkan pembalap berbakat, namun belum didukung fasilitas latihan yang memadai.

“Kita bisa melahirkan banyak pembalap, tetapi belum punya sirkuit permanen,” kata Doni saat dihubungi, Selasa (24/3/2026).

Ia berharap ke depan pemerintah dapat menghadirkan fasilitas yang lebih layak untuk mendukung perkembangan atlet balap di daerah tersebut.

Pembalap Jogja Berprestasi di Level Dunia

Sejumlah pembalap asal Yogyakarta bahkan telah mencatatkan prestasi di level dunia. Terbaru adalah Veda Ega Pratama yang tampil di Moto3 dan menjadi pembalap Indonesia pertama yang meraih podium Grand Prix saat finis ketiga pada Moto3 Brasil, akhir pekan lalu.

Selain itu, Aldi Satya Mahendra juga menorehkan sejarah setelah meraih podium kedua pada seri pembuka World Supersport 2026 di Phillip Island, Australia.

Nama lain yang lebih dulu menembus kejuaraan dunia adalah Andi Farid Izdihar atau Andi Gilang yang pernah tampil di Moto2. Meski berasal dari Sulawesi Selatan, Andi Gilang rutin berlatih di Yogyakarta.

Yogyakarta Jadi Pusat Pembinaan Pembalap

Doni menyebut Yogyakarta selama ini menjadi salah satu pusat pembinaan pembalap karena banyaknya sekolah balap yang berkembang di daerah tersebut.

“Di Jogja banyak sekolah balap. Kami sering latihan bareng, saling berbagi pengalaman,” ujarnya.

Para pembalap kerap berlatih bersama untuk membangun kekompakan sekaligus meningkatkan kemampuan teknis.

Latihan Terbatas di Fasilitas Sederhana

Menurut Doni, Yogyakarta selama ini dikenal sebagai salah satu basis pembinaan pembalap karena banyaknya sekolah balap yang berdiri di daerah tersebut.

“Di Jogja banyak sekolah balap. Ada sekolah balap punya orang tua Veda (Sudarmono), kemudian tempat saya juga, dan beberapa pelatih lain. Jadi kami sering latihan bareng, saling berbagi pengalaman,” katanya.

Ia mengatakan para pembalap di Yogyakarta terbiasa berlatih bersama untuk membangun kekompakan sekaligus meningkatkan kemampuan.

“Biasanya kami latihan bareng di Mandala Krida atau di area Pasar Sapi. Jadi memang lebih ke kebersamaan dan saling mendukung,” ujarnya.

Harapan Pembangunan Sirkuit Permanen

Doni berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian terhadap pembangunan sirkuit permanen agar pembinaan pembalap bisa berjalan lebih maksimal.

Menurutnya, Yogyakarta sudah menjadi salah satu barometer lahirnya pembalap Indonesia, termasuk di cabang motocross seperti Sheva Anella Ardiansyah yang meraih podium di kejuaraan internasional.

Keberadaan sirkuit permanen yang didukung fasilitas memadai seperti di negara-negara Eropa dan Jepang akan makin membuka peluang lahirnya banyak pembalap berprestasi.

“Harapannya tentu Jogja bisa punya sirkuit. Supaya bisa melahirkan lebih banyak Veda baru dan pembalap Indonesia lainnya. Sekarang saja dengan keterbatasan sudah ada yang bisa sampai ke level dunia,” kata Doni.

Jurnalis: Ant
Editor: Basuki