JAKARTA, Lingkar.news – Gelombang aksi demo mahasiswa terjadi di Jakarta, Semarang, dan Solo dalam sepekan terakhir. Ribuan mahasiswa menyuarakan protes atas kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai tidak tepat sasaran dan tidak berpihak pada rakyat.
Unjuk rasa tersebut bentuk protes atas kondisi ekonomi Indonesia yang memburuk, di mana masyarakat menanggung biaya hidup yang meningkat akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Ketidakpuasan memuncak menyusul kenaikan harga BBM nonsubsidi Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 pada Rabu (10/6/2026), Mahasiswa menilai kebijakan tersebut diputuskan mendadak tanpa mempertimbangkan kesiapan masyarakat.
Di Jakarta, ribuan mahasiswa dari berbagai kampus menggelar demo dari sejumlah titik menuju kawasan Bundaran HI, Jumat (12/6/2026). Massa demo yang digagas Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) itu mengajukan lima tuntutan kepada pemerintahan Prabo–Gibran.
Lima tuntutan itu meliputi: hentikan pemborosan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), turunkan harga kebutuhan pokok dan BBM, hentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), hentikan militerisme di ranah sipil, serta mendesak Presiden Prabowo mengakui kesalahan pemerintah dan berhenti mengelak.
Di hari yang sama, aksi demonstrasi BEM se-Solo Raya berlangsung di depan DPRD Kota Solo, Jumat (12/6/2026). Massa mahasiswa juga menyerukan lima tuntutan serupa kepada pemerintah.
Baca juga: Demo BEM UI, Berikut 5 Tuntutan kepada Prabowo–Gibran
Sepekan sebelumnya, Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Bank Indonesia (BI) Perwakilan Jawa Tengah, Kota Semarang, Jumat sore (5/6/2026).
Massa mengkritik kinerja pemerintah terkait melemahnya nilai tukar rupiah yang berpotensi memperburuk kondisi ekonomi nasional, terutama bagi Indonesia yang masih bergantung pada berbagai produk impor.
BEM SI memberikan ultimatum 18 hari kepada pemerintah untuk segera memperbaiki kondisi ekonomi dan mengatasi pelemahan nilai tukar rupiah yang saat itu menembus angka Rp18.000.
Pihak Istana merespons tuntutan mahasiswa tersebut melalui Kepala Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah, Muhammad Qodari, dan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) sekaligus Juru Bicara Presiden, Prasetyo Hadi.
Terkait tudingan pemborosan APBN, Qodari mengeklaim pemerintahan Prabowo justru telah melakukan efisiensi anggaran di berbagai sektor hingga mampu menghemat Rp300 triliun.
“Pak Prabowo justru selama ini adalah menghentikan pemborosan di berbagai sektor. Di awal sekali pemerintahan Pak Prabowo melakukan penghematan yang tidak urgent, tidak esensial itu distop, sehingga pada waktu itu bisa dihemat sekitar Rp300 triliun,” ungkapnya, Sabtu (13/3/2026).
Qodari mencontohkan kebijakan pemerintah membentuk PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai badan eskpor satu pintu untuk mengatasi kebocoran uang negara.
“Langkah itu kan ditujukan untuk mencegah kebocoran terhadap APBN kita yang telah berjalan puluhan tahun dalam jumlah yang sangat fantastis. Total sekian puluh tahun kan sampai Rp15.000 triliun,” tuturnya.
Sebelumnya, Mensesneg Prastetyo Hadi menyatakan pihaknya menerima aspirasi mahasiswa BEM SI sebagai masukan bagi pemerintah.
Ia menegaskan pemerintah dalam beberapa hari terakhir betul-betul bekerja sama dan bekerja keras untuk mengatasi permasalahan perekonomian tanah air.
“Kita yakin bahwa langkah-langkah yang kita ambil, dengan koordinasi yang erat, dengan koordinasi yang intens, dengan kebijakan yang saling memperkuat satu sama lain,” kata Prasetyo di Jakarta, Senin (8/6/2026).
Terkait ultimatum 18 hari dari BEM SI untuk memperbaiki kondisi ekonomi, Prasetyo menyatakan tidak semua permasalahan bisa diselesaikan dalam tenggat waktu tertentu. Namun, ia memastikan pemerintah terus berupaya menangani masalah ekonomi meski tidak mudah diselesaikan.
“Ya, mohon maaf ya, tidak semuanya, tidak segala sesuatu itu bisa dicapai dengan sebuah tenggat waktu yang sudah ditetapkan. Tapi yakinlah bahwa yang dimaksud juga oleh adik-adik (BEM SI) ini kan semangatnya untuk kita semua, bagaimana untuk memang bekerja keras terutama di sektor ekonomi,” urai Prasetyo.
Jurnalis: Lingkarnews Network
Editor: Basuki
