Yogyakarta, Lingkar.news – Tim akademisi Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) meluncurkan aplikasi inovatif bernama Bully Buster. Teknologi perlindungan digital ini dirancang khusus untuk mendeteksi secara dini indikasi perundungan siber (cyberbullying) yang kerap terjadi di lingkungan sekolah.
Inovasi mutakhir ini digagas oleh tim lintas disiplin ilmu dari UMBY yang terdiri atas Putri Taqwa Prasetyaningrum, Eka Aryani, dan Abdul Hadi. Kolaborasi tersebut berhasil memadukan keahlian di bidang teknologi informasi dengan metode bimbingan dan konseling untuk merespons maraknya perundungan digital di media sosial maupun grup percakapan siswa.
Penemu inovasi ini menjelaskan bahwa aplikasi Bully Buster dirancang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan untuk mengidentifikasi ancaman perundungan di sekolah sejak awal.
“Aplikasi Bully Buster hadir sebagai solusi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence), dan Natural Language Processing (NLP) untuk mendeteksi dini indikasi perundungan siber di lingkungan sekolah,” kata penggagas inovasi, Putri Taqwa Prasetyaningrum di Yogyakarta, Senin (14/9/2026).
Aplikasi ini dikembangkan untuk membantu sekolah mengambil tindakan cepat dalam membentengi siswa dari dampak buruk intimidasi di dunia maya.
“Selain mendeteksi pola komunikasi berbahaya, Bully Buster dilengkapi sistem pelaporan anonim, dasbor pemantauan konselor, hingga dukungan terapi berbasis virtual reality. Pendekatan ini tetap menempatkan peran guru, konselor dan orang tua sebagai kunci utama pendampingan korban,” katanya.
Menurut dia, ada sejumlah fitur utama dalam aplikasi, seperti analisis pesan menggunakan AI dan NLP, sistem pelaporan anonim, dasbor pemantauan bagi guru atau konselor, serta dukungan terapi berbasis realitas virtual.
Teknologi AI dan NLP yang disematkan ke dalam sistem ini dikonfigurasikan agar mampu mengenali kata, kalimat, atau pola komunikasi yang mengandung unsur penghinaan, ancaman, pelecehan verbal, dan ujaran kebencian.
Sistem ini akan mengirimkan sinyal peringatan dini kepada otoritas sekolah begitu terdeteksi adanya indikasi tindakan intimidasi digital di antara siswa.
“Ketika sistem menemukan indikasi perundungan, informasi tersebut dapat menjadi peringatan awal bagi pihak yang berwenang untuk melakukan pemeriksaan dan tindak lanjut,” katanya.
Melalui fitur pelaporan anonim, para siswa mendapatkan perlindungan identitas yang aman, sementara guru bimbingan konseling dapat dengan mudah menentukan langkah penanganan terbaik.
“Selanjutnya, guru bimbingan dan konseling dapat memantau laporan melalui dasbor serta menentukan bentuk pendampingan yang sesuai,” katanya.
Di samping teknologi antipelundungan siber, tim UMBY juga memperkenalkan inovasi hilirisasi produk herbal lokal berupa olahan kunir putih dalam ajang Sarasehan Sains dan Teknologi Yogyakarta (SSTY) baru-baru ini.
Peneliti UMBY Prof Dwiyati Pujimulyani mengatakan pengembangan kunir putih merupakan salah satu bentuk hilirisasi hasil penelitian perguruan tinggi, kekayaan alam lokal tidak hanya dipelajari secara akademis, tetapi juga dikembangkan menjadi produk bernilai tambah yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
Pihak peneliti UMBY menekankan pentingnya riset ilmiah untuk menaikkan nilai guna tanaman herbal lokal demi kesehatan masyarakat luas.
“Kami ingin memperlihatkan bahwa bahan alam lokal memiliki potensi besar apabila diteliti dan dikembangkan dengan pendekatan ilmiah. Harapannya, inovasi kunir putih dapat memberikan manfaat bagi kesehatan masyarakat sekaligus mendorong tumbuhnya produk unggulan daerah,” katanya.
Langkah kolaboratif ini menjadi bukti nyata komitmen UMBY dalam mendukung penguatan kesehatan fisik berbasis kearifan lokal sekaligus perlindungan kesehatan mental di ruang digital demi melahirkan generasi muda DIY yang sehat, aman, dan kompetitif.
Pewarta: Rara
Editor: Saiful Muhlis
