Gunungkidul, Lingkar.news – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul memetakan potensi kekeringan di wilayah setempat sebagai langkah mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau. Kamis (25/6/2026).
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono, menyatakan bahwa tren kekeringan di wilayah tersebut biasanya dimulai dari kawasan selatan karena kontur tanahnya yang kurang mampu menahan air.
Menurut Purwono, tren ini didasarkan pada pengamatan kejadian kekeringan tahun-tahun sebelumnya yang kerap diawali dari wilayah Kapanewon Girisubo, Tepus, Tanjungsari, Panggang, Purwosari, dan Saptosari yang didominasi tanah kapur.
“Karakteristik tanah di sana dominan tanah kapur sehingga sangat mudah kering, artinya tidak mampu menyimpan air di permukaan tanah,” ujar Purwono.
Ia menjelaskan bahwa posisi air tanah di wilayah tersebut berada pada kedalaman sekitar 80 hingga 100 meter di bawah permukaan tanah. Kondisi ini membuat kawasan selatan menjadi prioritas utama dalam penyaluran bantuan air bersih.
“Penyaluran air kami awalnya dari selatan, kemudian nanti makin mundur ke belakang merembet ke arah utara, seperti itu pemetaannya,” tuturnya.
Selain ancaman krisis air bersih, dampak kekeringan juga berpotensi mengganggu produktivitas sektor pertanian.
Purwono menyebutkan bahwa masyarakat setempat telah memiliki adaptasi mandiri dengan menanam komoditas yang tahan minim air, seperti umbi-umbian dan ketela, yang memang lebih cocok dengan kondisi alam wilayah tersebut.
Petani juga melakukan penyesuaian musim panen agar selaras dengan kondisi cuaca, sehingga proses pengeringan hasil panen dapat dilakukan secara optimal.
“Sehingga ketika terik matahari baik, kualitas gaplek akan baik,” jelasnya. (rara-lingkar.news)