Yogyakarta, Lingkar.news – Sebanyak 1.000 penyandang disabilitas menggelar aksi pembacaan teks proklamasi menggunakan bahasa isyarat di kawasan Titik Nol Kilometer, Kota Yogyakarta, pada Rabu (12/08/2026). Kegiatan ini resmi mencatatkan rekor baru di Museum Rekor Indonesia (Muri).
Wakil Gubernur DIY KGPPA Paku Alam X mengatakan, “Hari ini kita menyaksikan pembacaan teks proklamasi menggunakan bahasa isyarat oleh seribu penyandang disabilitas. Tentu ini adalah inisiatif yang sangat layak kita apresiasi bersama.”
Menurut Wagub, kegiatan tersebut bukan sekadar mengejar pencatatan rekor, melainkan bentuk penegasan bahwa nilai-nilai kebangsaan dan semangat kemerdekaan harus inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.
“Namun ditegaskan adalah nilai-nilai kebangsaan, semangat kemerdekaan, dan ruang partisipasi dalam kehidupan bersama harus dapat dijangkau oleh seluruh warga negara tanpa terkecuali,” ujar Paku Alam X.
Pemerintah Daerah DIY menekankan bahwa kemajuan suatu bangsa tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, melainkan dari keterlibatan aktif seluruh warga negara.
“Tetapi juga oleh sejauh mana setiap warga negara memperoleh kesempatan untuk hadir, berpartisipasi, dan diakui sebagai bagian yang utuh dari kehidupan bersama,” tambahnya.
Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi yang turut hadir menegaskan bahwa aksi ini membawa pesan kemanusiaan yang mendalam dari Yogyakarta.
“Sejak dahulu Yogyakarta dikenal sebagai kota pendidikan dan kota budaya yang mengajarkan nilai-nilai luhur tentang penghormatan kepada sesama, gotong royong serta semangat tepo seliro,” ujar Siti Hediati Hariyadi.
Siti Hediati Hariyadi menyimpulkan bahwa setiap individu memiliki martabat yang setara, sehingga Yogyakarta menjadi lokasi yang relevan untuk memperjuangkan kesetaraan akses bagi penyandang disabilitas.
“Setiap anak bangsa berhak memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar, berkarya, dan meraih masa depan yang lebih baik, apa yang kita gaungkan dari Yogyakarta ini saya harapkan dapat menjadi inspirasi bagi tempat-tempat lain di Indonesia,” pungkasnya.
Pewarta: Rara
Editor: Saiful Muhlis